SEJERAH YANG TERLUPAKAN DI GAYO
----- Pesan yang Diteruskan -----
Dari: Saprijal Aprie <saprijal_aprie@ymail.com>
Kepada: "redaksi@harian.com" <redaksi@harian.com>
Dikirim: Jumat, 16 Desember 2011 22:20
Judul: Trs: SEJARAH YANG TERLUPAKAN DI GAYO
Dari: Saprijal Aprie <saprijal_aprie@ymail.com>
Kepada: "redaksi@harian.com" <redaksi@harian.com>
Dikirim: Jumat, 16 Desember 2011 22:20
Judul: Trs: SEJARAH YANG TERLUPAKAN DI GAYO
Dari: Saprijal Aprie <saprijal_aprie@ymail.com>
Kepada: "prohaba@serambinews.com" <prohaba@serambinews.com>
Dikirim: Minggu, 13 November 2011 0:09
Judul: SEJARAH YANG TERLUPAKAN DI GAYO
( KERAJAAN LINGE )
Bukti
Peninggalan Kerajaan Linge
Stempel
Raja linge
Inen Mayak Putri Pukes
ASAL KATA LINGE
Kata
linge terdiri dari dua kata; "ling" dan "nge".
"Ling" dalam bahasa Indonesia artinya adalah suara, sedangkan
"nge" dalam bahasa Indonesia artinya adalah nya, Jadi, apabila di
gabungkan antara dua kata tersebut adalah suaranya. Yang maknanya
adalah suaranya ada, tetapi manusia-nya tidak jelas, begitulah makna Kerjaan
Linge sekarang ini. Artinya suara orang atau masyarakat setempat bahwa
mengatakan Kerjaan Linge itu ada, tetapi Bukti-Bukti peninggalannya tidak ada.
Kalaupun ada, itu semua berarti hanya sedikit dari yang diharapkan.
Kerajaan
Linge adalah sebuah Kerjaaan kuno di Aceh. Kerajaan ini terbentuk pada tahun
1025 M (416 H) dengan raja pertamanya adalah Adi Genali. Adi Genali (Kik Betul)
mempunyai empat orang anak yaitu: Empu Beru, Sibayak Linge, Merah Johan, Reje
Linge I mewariskan kepada keturunannya sebilah pedang dan sebentuk cincin
permata yang berasal dari sultan Peureulak Makhdum Berdaulat Mahmud Syah
(1012-1038 M).
Pada
saat Adi Genali membangun Negeri Linge, maka pada saat bersamaan juga diberikan
pusaka tersebut kepadanya yang diberikan gelar "Cik Serule (Paman
Serule)". Nama serule disini adalah salah satu perkampungan yang ada di
Kecamatan Linge Kabupaten Aceh Tengah.
Pusaka ini diberikan saat Adi Genali membangun Negeri Linge pertama di Buntul Linge bersama dengan seorang perdana menteri yang bernama Syekh Sirajuddin yang bergelar Cik Serule". tentang didong gayo yang menurut Ismuha, (13/7), Kabid kebudayaan Pemkab Bener Meriah, kesenian didong dimulai sejak Reje Linge ke 13. Kemudian, di sini timbul pertanyaan yang besar bagi kita, lantas kapan Reje Linge I-XII itu terjadi?
Pusaka ini diberikan saat Adi Genali membangun Negeri Linge pertama di Buntul Linge bersama dengan seorang perdana menteri yang bernama Syekh Sirajuddin yang bergelar Cik Serule". tentang didong gayo yang menurut Ismuha, (13/7), Kabid kebudayaan Pemkab Bener Meriah, kesenian didong dimulai sejak Reje Linge ke 13. Kemudian, di sini timbul pertanyaan yang besar bagi kita, lantas kapan Reje Linge I-XII itu terjadi?
Di situs lain dikatakan juga oleh Fajri, Kokasih
Bakar dan Uwein mengatakan bahwa Reje Linge itu merupakan kekeberen istilah
gayo dan berita rakyat dalam bahasa Indonesia, yang langsung mereka wawancarai
dengan.
Djamil seorang Sejarawan Gayô.Dalam kekeberen ini
diceritakan 2 Kerajaan yang merupakan asal dari Gayô yaitu Kerajaan Lingë dan
Kerajaan Malik Ishaq. Kerajaan Lingë berdiri pada abad ke 10, sedangkan
Kerajaan Malik Ishaq pada saat adanya Kerajaan Pérlak (abad ke 8 s.d. 12 M) dan
Sri Wijaya (abad ke 6 s.d. 13, sedangkan masa kejatuhannya pada abad 12 M atau
13 M).Kerajaan Lingë berasal dari Kerajaan Rum atau Turki, asal kata Lingë
berasal dari bahasa Gayô yang berarti Léng Ngé yang artinya suara yang
terdengar. Raja Lingë I ini beragama Islam bernama Réjé Genali atau Tengku Kawe
Tepat (Pancing yang lurus dalam bahasa Acih).Agama Islam yang dianut bisa
dililhat dari bendera Kerajaan Lingë tersebut, dimana ada Syahadat di atas
benderanya dan di bawahnya bernama 4 sahabat nabi, sedangkan warnanya belum
diketahui karena sudah kusam, antara merah dan putih (bendera ini masih bisa
dilihat dan disimpan di daerah Karô, sebagai pusaka dari anak salah satu Raja
Lingë yang pergi ke Karô).
Sisilah
keluarga raja linge.
Raja Lingë mempunyai 4 anak, 3 laki-laki dan satu
perempuan. seorang perempuan bernama Datu Beru, dan ketiga anak laki-lakinya
bernama Djohan Syah, Ali Syah dan Malam Syah.Ketika besar khusus anak
laki-lakinya akan disunat seperti halnya ajaran Islam, anak yang ke-3 bernama
Ali Syah tidak bisa disunat karena kemaluannya tidak dimakan pisau. Hal ini
tentu saja membuat malu. Hal ini menyebabkan ia meminta ijin kepada Raja Lingë
untuk pergi ke daerah Karô.
Walau pada
mulanya Raja tidak mengijinkan namun akhirnya dengan berat hati sebelum
kepergian mereka dibagikan pusaka untuk anak laki-lakinya yaitu Kôrô Gônôk,
Bawar, Tumak Mujangut, Mérnu dan élém (Bendera Pusaka). Sedangkan Datu Béru
memegang kunci khajanah Kerajaan Lingë.
Ali Syah, anak ke-3 Raja Lingë
Ali Syah
bersama rombongan berangkat menuju Karô menuju daerah yang disebut Blang Munté.
Pada daerah tersebut Ali Syah bersama rombongannya memutuskan untuk berhenti
dan menetapkan bahwa tempat itu sebagai tempat ia terakhir bersama rombongan.
Tinggallah
Ali Syah seorang diri selama berbulan-bulan tinggal disitu, dalam sebuah
kesempatan ketika kemudian mencari ikan di Uih Kul Renul, bertemu dengan gadis
dan bujang sedang menyekot (mencari ika) yang kemdian diketahui berasal dari
negeri Pak-Pak. kemudian menjadi teman dan bergaul, akhirnya menikah dengan
beberu pak-pak tersebut sampai berketurunan. Ali Syah pun akhirnya belajar
bahasa dan hidup disana.
Terdapat
sebuah kisah yang menarik yaitu ketika suatu saat Bélah dari Ali Syah yang
sudah tua tersebut akan pergi bersawah yang sebelumnya diadakan kenduri
(dinamai kenduri Mergang merdem). Acara kenduri tersebut diadakan agak jauh
dari tempat Ali Syah tinggal sehingga keturunannya atau cucunya ditugaskan
untuk memberikan nasi beserta ikan kepadanya. Ternyata ketika sampai di sana
didapatinya ikannya hanya tinggal tulang belulang saja karena telah dihabisi
oleh anak cucunya, mendengar ini ia amat murka dan mengutuk semua (kélém-lémén)
anak cucu keturunannya menjadi batu semua, semua nya masih bisa dilihat
buktinya disana di Blang Munté perbatasan Karô dan Alas.
Namun,
ternyata ada yang lolos dari kutukkannya seorang aman mayak (pengantin Pria),
inén mayak (Pengantin Wanita) yang sedang hamil dan satu lagi adiknnya inén
mayak tersebut. Melihat tersebut Aman Mayak pergi meninggalkan daerah tersebut
untuk menceritakan hal ini kepada Raja Lingë. Mendengar hal tersebut segera
dikirimkan rombongan kesana untuk mencari tahu atau menguburkan bila ada yang
meninggal.
Setelah
lantas diketemukan pohon kelapa yang menandakan ada kampông, yang disebut
dengan Kampung Bakal, mereka ingin kesana karena lapar. Saat itu di pinggir
sungai tersebut terlihat Giôngén (Kijang) yang sedang minum, mereka mecoba
menangkap Giôngén tersebut untuk kemudian membantu mereka berdua melewati
sungai tersebut. Dalam suatu ketika mereka hampir terlepas dari pegangan kepada
Giôngen tersebut, sehingga Inen Mayak yang sedang mengandung tersebut
mengucapkan dalam bahasa Karô ‘ngadi ko lao’, atau ‘berhentilah kau air’,
sehingga sampai sekarang ada pusaran air disana. Dan karena ada kejadian inilah
orang-orang Gayô disana dilarang memakan daging Giôngén.
Sesampai
diseberang sungai Inén Mayak tersebut melahirkan, karena kelelahan iya dibawa
arus air sungai (Wih Kul) tersebut. Sedangkan anaknya diselamatkan oleh adiknya
di pinggir sungai. Pada saat anak tersebut kehausan datanglah seekor Kerbau
atau Kôrô Jégéd, yang kemudian adiknya membiarkan anak kakaknya untuk menyusu
terhadap kerbau tersebut.
Akhirnya
mereka berdua ditangkap oleh orang kampông tersebut, saat itu mereka sedang
mencari Kôrô jégéd (Kerbau berwarna putih Krim) punya Raja yang hilang. Ketika
menemukan kerbaunya sedang menyusui seorang anak manusia maka orang-orang
Kampung tersebut menganggap bahwa Kerbau keramat tersebut telah melahirkan.
Mereka
lantas melaporkan kepada Raja Bakal, lantas oleh Sang Raja anak tersebut
dianggp sebagai penerusnya, karena ia sampi saat itu tidak mempunyai seorang
anakpun. Adik dari Inen Mayak tersebut di tahan sekaligus memelihara anak
kakaknya yang sudah tiada.
Dalam
keadaan tersebut sampai rombongan Réjé Lingë. Ketika sampai di kampungnya Aman
Mayak mereka sudah tidak menemukan siapa-siapa lagi, maka mereka pun berusaha
mencari istri dan adik istri dari Aman Mayak tersebut.
Mereka pun
akhirnya sampai di perkampungan Bakal tersebut, lantas merekapun mendengar
berita tentang keganjilan-keganjilan yang terjadi saat itu. Mereka memutuskan
untuk dapat menunggu lebih lama untuk mencari informasi. Sampai akhirnya
bertemu dengan adik dari istrinya dan bercerita tentang desas-desus tersebut
serta kebenaran bahwa sesungguhnya anak dari anak Kôrô jégéd sebagai anak Aman
Mayak atau keturunan Raja Lingë.
Namun
dalam mengekontruksi sebuah sejarah yang belum pernah di ungkap, perlu dengan
teliti dan pemahaman yang sangat kuat dalam meneliti sebuah sejarah. Maka
selaku anak sejarawan perlu diteksi dengan valit,untuk itu kita semua harus
tahu yang bahwa sejarah merupakan cerminan dalam kehidupan kita akan ke depan.
Sejarah masa
lalu sebenarnya bisa mengantar kita pada suatu kenyakinan, bahwa kita mampu dan
memiliki potensi untuk berada dalam garis tredepan dalam lapangan ilmu
pengetahuan. Kesadaran diri dalam realita, kita dalam kancah dunia modern kita
harus berani menatap masa kini dengan segala kekalahan kita tanpa harus
menyesali dan mengutuk alur sejarah.
Kenangan
ini harus melahirkan tekat kita bersama. istilah pepatah. “Kita mampu kalau memang kita mau, ,!!!!!!
JAS MERAH”
JANGAN SEKALI-KALI MELUPAKAN SEJARAH”!!!!
Pengarang :
Rijal – saprie
Mahasiswa : ( Sastra )Adab: Iain ar-Raniry
Darussalam
:
Banda Aceh


Tidak ada komentar:
Posting Komentar